Ziarah dan Wisata Religi

Ziarah dan Wisata Religi

Oleh: Isa Wahyudi

A.    RAGAM MACAM ZIARAH DAN WISATA RELIGI

Penelitian tentang wisata ziarah atau biasa disebut dengan wisata religi diangkat oleh Anas Ilman I.P, dan Heru Purwadio (2010) di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember  dengan judul “Pengembangan Kawasan Wisata Religi kompleks Makam Syaihona Moh. Kholil Bangkalan” Berdasarkan hasil analis expert judgement diperoleh arahan pengembangan pariwisata makam Syaihona Kholil Kabupaten Bangkalan. Adapun arahan pengembangan pariwisata : (1). Perlunya kegiatan rutin sebagai sarana memperkenal kan pariwisata (2). Metode pemasaran yang harus lebih memanfaatkan media-media modern saat ini seperti web, Social media dan radio (3). Perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi untuk mendukung kegiatan pariwisata (4). Himbauan secara berkala kepada masyaraka t untuk tetap menjaga lingkungan (5). Perencanaan kawasan komersial di sekitar makam Syaihona kholil (6). Pembangunan fasilitas penginapan, warung, dan pertokoan oleh-oleh. (7). Pembangunan fasilitas parkir yang nyaman dan dapat menampung seluruh kendaraan wisatawan

Penelitian yang dilakukan oleh Ahsana Mustika Ati (2011) Pengelolaan Wisata Religi (Study Kasus Makam Sultan Hadiwijaya untuk Pengembangan Dakwah).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan makan Sultan Hadiwijaya sudah berjalan dengan baik yaitu meliputi pengelolaan wisata religi, pengelolaan sumberdaya antara lain sumber daya manusia, sumber daya alam serta sumberdaya finansial. Faktor-faktor pendukung maupun penghambat untuk pengelolaan wisata religi di kompleks makam Sultan Hadiwijaya hendaknya selalu ditingkatkan, misal pemberian informasi kepada pihak luar, menjalin kerjasama dengan pemerintah yang paling utama Dinas Pariwisata, bekerjasama dengan Kraton Surakarta maupun dengan masyarakat.

Upaya yang dilakukan daya tarik wisata pada kompleks makam Sultan Hadiwijaya untuk menarik peziarah agar berkunjung ke makam Sultan Hadiwijaya maka, pihak pengelola melakukan kiat-kiat keselamatan terhadap wisatawan, kelestarian dan mutu lingkungan, ketertiban dan ketentraman masyarakat diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Kegiatan mengelola daya tarik wisata yang telah ada mempunyai arti penting untuk kelanjutan dan kesinambungan pariwisata baik pembangunan tempat wisata maupun sarana dan prasarana. Pengelolaan daya tarik wisata religi dapat memberikan manfaat baik dalam bidang ekonomi, sosial dan menjaga cagar budaya ini dengan sebaik-baiknya.

Penelitian yang dilakukan oleh Isa Wahyudi (2008) yang berjudul Menguak Wisata Religi: Dari Ritus Sampai Pasar. Penelitian yang dilakukan di Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Makam Sunan Giri di Kabupaten Gresik menyimpulkan bahwa dampak wisata secara positif memberikan manfaat/keuntungan baik bagi masyarakat setempat, pengusaha maupun pemerintah. Sedangkan sifat negatif muncul apabila pariwisata menimbulkan kerugian bagi masyarakat setempat (lingkungan sosial budaya) serta lingkungan alam/fisik (ekologi). Dampak positif dari pengembangan pariwisata bagi masyarakat adalah terciptanya lapangan kerja, yang pada akhirnya membawa kesejahteraan hidup masyarakat setempat di samping pihak luar (pengusaha, investor dan pemerintah).

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang sebelumnya. Adapun persamaannya adalah menentukan strategi pengembangan bagi objek wisata ziarah atau bisa di sebut dengan wisata religi  sedangkan perbedaanya terletak pada waktu dan lokasi penelitian. Lebih ringkasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2. 1 Penelitian Sebelumnya

No

Peneliti

Judul

Kesimpulan

1

Anas
Ilman I.P, dan Heru Purwadio

Pengembangan
Kawasan Wisata Religi kompleks Makam Syaihona Moh.Kholil Bangkalan

Berdasarkan
hasil analis expert judgement
diperoleh arahan pengembangan pariwisata makam Syaihona Kholil Kabupaten
Bangkalan. Adapun arahan pengembangan pariwisata : (1). Perlunya kegiatan
rutin sebagai sarana memperkenal kan pariwisata (2). Metode pemasaran yang
harus lebih memanfaatkan media-media modern saat ini seperti web, Social
media dan radio (3). Perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang
terintegrasi untuk mendukung kegiatan pariwisata (4). Himbauan secara berkala
kepada masyaraka t untuk tetap menjaga lingkungan (5). Perencanaan kawasan
komersial di sekitar makam Syaihona kholil (6). Pembangunan fasilitas
penginapan, warung, dan pertokoan oleh-oleh. (7). Pembangunan fasilitas
parkir yang nyaman dan dapat menampung seluruh kendaraan wisatawan

2

Dyah
Ivana Sari (2010 )

Objek
Wisata Religi Makam Sunan Muria

(Studi
Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Colo,

Kecamatan
Dawe, Kabupaten Kudus)

Keberadaan
Makam Sunan Muria membawa pengaruh bagi masyarakat sekitar, yaitu: adanya
perubahan dalam kehidupan social masyarakat diantaranya mengubah status yang
tadinya pengangguran menjadi tidak pengangguran, membuka peluang usaha di
masyarakat, dan juga memberikan pengetahuan dan wawasan yang luas bagi
masyarakat. Sedangkan dampak dalam bidang ekonomi tentunya sangat besar yaitu
peningkatan pendapatan keuangan dan juga peningkatan kesejahteraan bagi
kehidupan ekonomi masyarakat.

3

Ahsana Mustika Ati (2011)

Pengelolaan Wisata Religi
(Study Kasus Makam Sultan Hadiwijaya untuk Pengembangan Dakwah).

pengelolaan
makan Sultan Hadiwijaya meliputi pengelolaan wisata religi, pengelolaan
sumberdaya antara lain sumber daya manusia, sumber daya alam serta sumberdaya
finansial.

4

Isa Wahyudi (2008)

Menguak Wisata Religi: Dari Ritus Sampai Pasar
(Studi Di Kabupaten Gresik)

 

dampak wisata secara
positif memberikan manfaat/keuntungan baik bagi masyarakat setempat,
pengusaha maupun pemerintah. terciptanya lapangan kerja, yang pada akhirnya
membawa kesejahteraan hidup masyarakat setempat di samping pihak luar
(pengusaha, investor dan pemerintah)

Sumber: data di olah  

B.    ZIARAH / WISATA RELIGI

Ziarah adalah kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berziarah yaitu kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (seperti makam) untuk berkirim doa (2001 : 1280).

Tradisi ziarah adalah suatu kebiasaan mengunjungi makam, entah itu makam sanak saudara, leluhur, maupun makam yang dikeramatkan untuk mengirim kembang dan mendoakan orang yang telah meninggal kepada Tuhan. Hal ini merupakan keharusan yang merupakan tradisi religi dari para pendahulu yang tidak pernah tergoyahkan oleh berbagai paham baru

Ziarah makam merupakan satu dari sekian banyak tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Berbagai maksud dan tujuan maupun motivasi selalu menyertai aktivitas ziarah. Ziarah kubur yang dilakukan oleh orang Jawa ke makam yang dianggap keramat sebenarnya akibat pengaruh masa Jawa-Hindu.

Pada masa itu, kedudukan raja masih dianggap sebagai titising dewa sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang raja masih dianggap keramat termasuk makam, petilasan, maupun benda-benda peninggalan lainnya (Ariyani, 2002)

Kepercayaan masyarakat pada masa Jawa-Hindu masih terbawa hingga saat ini. Banyak orang beranggapan bahwa dengan berziarah ke makam leluhur atau tokoh tokoh magis tertentu dapat menimbulkan pengaruh tertentu. Kisah keunggulan atau keistimewaan tokoh yang dimakamkan merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk mewujudkan keinginannya. Misalnya dengan mengunjungi atau berziarah ke makam tokoh yang berpangkat tinggi, maka akan mendapatkan berkah berupa pangkat yang tinggi pula.

Kebiasaan mengunjungi makam sebenarnya merupakan pengaruh dari kebiasaan mengunjungi candi atau tempat suci lainnya di masa dahulu dengan tujuan melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kebiasaan ini semakin mendalam jika yang dikunjungi adalah tokoh yang mempunyai kharisma tertentu, mempunyai kedudukan tertentu seperti raja, ulama, pemuka agama, tokoh mistik, dan sebagainya.

Seiring berkembangnya jaman, berkembang pula pemahaman manusia tentang ziarah, bahkan muncul berbagai maksud, tujuan, motivasi maupun daya tarik dari aktivitas ziarah ini. Sebagai tempat yang dianggap suci, makam juga merupakan tempat wisata yang pantas untuk dikunjungi. Salah satunya yang sering di kunjungi adalah makam para Walisanga atau kiyai kharismatik dan sebagainya. Masih banyak pula makam tokoh-tokoh terkenal yang sekaligus sebagai objek wisata. Tidak Ketinggalan makam Presiden ke-1 Bung Karno, Makam Presiden Ke -2 Suharto, Makam Presiden Ke-4 KH. Abdurahman Wahid di kabupaten Jombang sebagai salah satu makam yang paling ramai di kunjungi.

Salah satu jenis wisata jika ditinjau dari segi aktivitas yang dilakukan wisatawan adalah wisata religi yang sering juga disebut Pilgrim tourism. Yaitu jenis wisata biasanya berkaitan dengan keagamaan, sejarah, adat  istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat.

Wisata religi banyak dilakukan perorangan maupun kelompok ke tempat-tempat suci, makam orang-orang besar atau pemimpin yang diagungkan, bukit atau gunung yang dianggap keramat, makam tokoh-tokoh atau pemimpin yang dianggap sakti dan melegenda. Tidak jarang juga Pilgrim tour dihubungkan dengan niat atau hasrat orang untuk memperoleh sesuatu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang juga untuk memperoleh berkah, kekayaan melimpah. (Pendit, 1994:46)

Kata “ziarah” berasal dari bahasa Arab yang berarti berkunjung. Ziarah adalah suatu kegiatan keagamaan yang dipercayai akan memberi berkah baik dunia maupun akhirat. Di Jawa, kata “Ziarah” disamakan dengan kata “Sowan” yang berarti berkunjung dan Nyekar yang berarti tabur bunga di atas makam. Disamping bertujuan untuk menunjukan rasa hormat bagi yang telah meninggal, kegiatan ziarah tidak hanya dilakukan di makam-makam para wali tetapi juga pada makam para leluhur yang dikeramatkan ataupun makam keluarga kerajaan (Jamhari, 1998: 34-35)

Kedatangan pengunjung dari berbagai daerah, apalagi yang jauh atau bahkan dari mancanegara, menimbulkan dampak pula bagi masyarakat sekitar. Selain pada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan ziarah ritual seperti malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dan lain-lain. Pada hari-hari libur nasional bahkan lebih ramai oleh kunjungan para wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pada waktu banyak pengunjung dipastikan akan banyak para pedagang tiban atau asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan kepada pengunjung. Hal ini juga membawa perubahan ekonomi pada masyarakat sekitar makam yang menjadi objek wisata tersebut. Keramaian para pengunjung telah membawa berkah bagi penduduk setempat bahkan yang mampu menjadi geliat ekonomi yang mampu membawa perubahan ekonomi sosial budaya setempat setidaknya mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat .

Masyarakat jawa mempunyai anggapan bahwa keberadaan makam leluhur harus dihormati dengan alasan makam adalah tempat peristirahatan terakhir bagi manusia khususnya leluhur yang telah meninggal. Leluhur itulah yang diyakini dapat memberikan kekuatan atau berkah tertentu. Oleh karena itu masyarakat mengaktualisasikan dengan perlakuan khusus terhadap makam leluhur. Hal ini akan semakin tampak nyata pada makam para tokoh yang dianggap mempunyai kekuatan lebih pada masa hidupnya. Kisah kehebatan dan luar biasanya para tokoh yang diziarahi memberikan motivasi para peziarah untuk bertirakat mengharapkan keberuntungan. Dengan demikian, mereka beranggapan makam dapat memberikan berkah bagi pengunjungnya atau peziarahnya yang melaksanakan tirakat dengan khusuk dan ikhlas (Sumarno , 2004)

Secara umum motivasi berziarah dapat digolongkan dalam empat hal meliputi taktyarasa: berziarah dengan tujuan memperoleh berkah dan keteguhan hidup (ngalap berkah); gorowasi: (berziarah ke makam legendaris untuk memperoleh kekuatan, popularitas, stabilitas pribadi, serta umur panjang, mencari ketenangan batin; widiginong: (berziarah dengan tujuan mencari kekayaan dunia maupun jabatan duniawi atau mencari rejeki; samaptadan: upaya mencari kebahagiaan anak cucu agar selamat atau untuk mencari keselamatan (Sudiro, 2005) .

 

C.    DAMPAK EKONOMI WISATA RELIGI

Konsepsi pembangunan berkelanjutan perlu diimplemen-tasikan pada tingkat kapasitas lokal. Wisata ziarah atau bisa di sebut dengan wisata religius yang dalam UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dapat di kategorikan kedalam wisata budaya merupakan salah satu pintu masuk atau sektor riil yang relevan dalam upaya memperkenalkan warisan sosial, budaya, bahkan agama serta kearifan lokal lainnya. Namun demikian, upaya pengembangan wisata religius dengan melibatkan penduduk lokal bukan hal mudah. Kemampuan melakukan transformasi sosial budaya termasuk agama misalnya ziarah sebagai strategi syiar dan membangun jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) untuk wisata religius merupakan kata kunci agar mereka mampu mengoperasikan jasa wisata religius dalam rangka mendapatkan manfaat sosial ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan.

Studi tentang wisata religi yang ada kaitannya dengan aspek sosial ekonomis apalagi sampai dengan membangun semangat kewirausahaan dalam jasa wisata religius belum berkembang secara memuaskan. Di indonesia termasuk di Jawa Timur begitu banyak objek wisata-wisata religius diantaranya berupa makam para wali/tokoh/pemuka agama, petilasan (napak tilas), situs-situs dan lain sebagainya yang syarat penuh makna dan dapat dijadikan media untuk refleksi dan kontemplasi atas kehidupan dan sejarah yang belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat sekitar, sentuhan stakeholder dan pemerintah daerah setempat. Penduduk setempat yang terlibat dalam jasa pemanduan.

McIntosh dan Goeldner mengemukakan ada 9 dampak sosial pariwisata bagi masyarakat setempat, yakni: (1) timbulnya aktivitas seperti perjudian, pelacuran dan minuman keras; (2) “efek demonstrasi”,yakni keinginan penduduk setempat untuk memakai barang-barang mewah dan import seperti yang dimiliki oleh para wisatawan; (3) ketegangan rasial; (4) tumbuhnya sikap merendahkan diri pada sebagian pekerja bisnis pariwisata; (5) peminiaturan kerajinan dan kesenian guna bisa menghasilkan jumlah yang banyak bagi wisatawan; (6) standardisasi peran-peran pekerja; (7) hilangnya kebanggaan kebudayaan; (8) perubahan cara hidup yang terlalu cepat; (9) tidak seimbangnya jumlah tenaga kerja yang bergaji rendah, yakni pekerja kasar di beberapa hotel dan restoran (McIntosh R.W. & Goeldner, R.W. 1986)

Dampak pariwisata dapat bersifat positif maupun negatif. Bersifat positif apabila pariwisata tersebut memberikan manfaat/keuntungan baik bagi masyarakat setempat, pengusaha mau pun pemerintah. Sedangkan sifat negatif muncul apabila pariwisata menimbulkan kerugian bagi masyarakat setempat (lingkungan sosial budaya) serta lingkungan alam/fisik (ekologi). Dampak positif dari pengembangan pariwisata bagi masyarakat adalah terciptanya lapangan kerja, yang pada akhirnya membawa kesejahteraan hidup masyarakat setempat di samping pihak luar (pengusaha, investor dan pemerintah).

Dampak selanjutnya dari aktivitas pariwisata adalah meningkatnya konsumsi lokal. Masyarakat yang beralih profesi dari sektor pertanian ke sektor jasa pariwisata menyebabkan berkurangnya penyediaan bahan makan yang semula dapat mereka hasilkan dari lahan pertanian. Oleh karenanya masuknya barang dan bahan makanan dari luar tak dapat dihindari. Namun ini sebenarnya juga sekaligus menunjukkan kemakmuran masyarakat setempat. Misalnya kasus yang ada di Seychelles menunjukkan adanya peningkatan konsumsi lokal pada saat terjadinya “boom” pariwisata di daerah tersebut, dan banyak warga masyarakat yang beralih kesektor jasa pariwisata (De Kadt, 1979).

DAFTAR PUSTAKA

Ahsana Mustika Ati (2011) Pengelolaan Wisata Religi (Study Kasus Makam Sultan Hadiwijaya untuk Pengembangan Dakwah).   Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang (skripsi tidak di terbitkan)

Anang Santosa (1995). Potensi dan Pengembangan Gunung Kawi Sebagai Objek Wisata Ziarah di Kabupaten Malang.  Program Studi Pariwisata Universitas Udayana (dalam perspektif sejarah) Tesis tidak di terbitkan

Ariani, Christriyati. “Motivasi Peziarah di Makam Panembahan Bodo Desa Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul”, dalam Patra-Widya. Vol. 3 No. 1, Maret 2002. (Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional),.

Aries Affandi (2001). Strategi Pengelolaan Kebun Raya Purwodadi Sebagai Ekowisata di Desa Dan Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. dalam Rahmat Alam Fajeri (2010)  wisata karya 3 : tentang wisata religi

De Kadt, Emanuel (ed.), Tourism. Passport to Development? (Washington: Oxford University Press, 1979). Hal 44-45

Hannu,  R.  2001.  Local involvement in ecotourism – how to get local people and villages interested in nature tourism ? Paper presented in International Seminar on Ecotourism in Petrozavodsk 3 – 4. April 2001.

Isa Wahyudi, 2010. Menguak Wisata Religius : Dari Ritus Sampai Pasar, Penelitian Dosen Muda, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik,  Dibiayai oleh Kopertis Wilayah VII Departemen Pendidikan Nasional, Sesuai Dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Penelitian Nomor:0025/SP2H-PDM/L.7/KL.1/II/2010, Tanggal 25 Februari 2010

Leny Yuniastutie (2002). Strategi pengembangan kawasan wisata Ziarah Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri. Program Studi Pariwisata Universitas Udayana Tesis tidak di terbitkan

McIntosh R.W. & Goeldner, R.W. 1986, Tourism. Principles, Practises, Philosophies New York: John Wiley & Sons, Inc.,.

McIntosh R.W. & Goeldner, R.W.1986. Tourism. Principles, Practises, Philosophies (New York: John Wiley & Sons, Inc., Hal.172

Sudiro,.Yusan Roes “Makna Religius Upacara Adat di Kalangan Orang Jawa”, Bernas. Sabtu 25 Januari 2005,

Sumarno. “Makam Sunan Ampel di Surabaya: Pengkajian Terhadap Persepsi dan Motivasi Pengunjung”, Patra-Widya. Vol. 5 No. 1, Maret 2004. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,

Leave a Reply