SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI BASIS EKONOMI KREATIF

SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI BASIS EKONOMI KREATIF

Isa Wahyudi*)

Industri Kreatif kelompok seni pertunjukan meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan. Usulan definisi: Dalam konteks pengkategorian baku ilmu seni, seni pertunjukan memasukkan seni musik, seni drama dan teater serta seni tari. Namun, pembahasan dalam industri kreatif melepaskan seni musik menjadi kelompok subsektor tersendiri. Sehingga, kelompok industri kreatif subsektor seni pertunjukan hanya melingkupi kegiatan yang berhubungan dengan seni drama, teater dan karawitan serta tari baik tanpa membedakan antara klasik, tradisi, modern, populer maupun kontemporer. Termasuk di dalamnya industri pendukung yang berkaitan seperti tata panggung, pencahayaan, busana dan tata suara. Seni pertunjukan adalah karya yang melibatkan aksi individu maupun kelompok yang menyajikan tontonan bernilai seni tanpa terbatas oleh media tertentu walaupun dalam beberapa kasus, penggunaan media perantara seperti media elektronik dan internet dapat mengurangi nuansa dari karya seni tersebut.

TENTANG SENI PERTUNJUKAN

Produk industri seni pertunjukan bersifat intangible dan dinikmati oleh audiens dalam sebuah tontonan. Produk ini tercipta melalui aktivitas proses kreasi yang dikemas oleh produser atau event organizer dan dilanjutkan dengan aktivitas komersialisasi oleh pemilik acara baik atas dasar permintaan konsumen akhir maupun atas inisiatif sendiri. Seni pertunjukan ini dapat ditonton langsung seperti pada gedung pertunjukan, hotel, restaurant, ruang publik ataupun melalui perantara media seperti televisi dan internet.

Produk industri seni pertunjukan kadang tidak berdiri sendiri melainkan tergabung dalam sebuah paket acara. Hal ini ditemukan seperti pada paket pariwisata, pendukung sebuah acara atau eksebisi hingga sarana promosi negara yang notabene pemerintah sebagai promotor seni budaya bangsa juga berada sebagai pihak pembeli. Proses kreasi Proses kreasi merupakan titik awal penting dalam penciptaan produk seni pertunjukan. Pihak yang terlibat dalam proses kreasi ini meliputi seniman per individu, dan komunitas seni. Selain itu juga banyak ditemukan bahwa proses kreasi muncul dari lembaga pendidikan. Dalam berkreasi, seniman tidak memikirkan terlalu dalam mengenai aspek komersial yang dapat diperoleh karena seni tidak semata mata ditujukan untuk mencari keuntungan. Hal ini perlu dijaga mengingat beberapa jenis pertunjukan terutama yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan tidak diperkenankan untuk dilakukan modifikasi dengan tujuan permintaan konsumen. Diharapkan tidak terjadi pendangkalan seni dan kooptasi serta hegemoni pemilik modal pada karya seni pertunjukan.

Proses produksi Seni pertunjukan dikemas menjadi sebuah pagelaran yang menarik berkonteks komersial (mencari keuntungan) oleh produser atau event organizer. Pihak inilah yang berposisi sebagai pengemas dan mengorganisasi sebuah karya seni pertunjukan untuk menjadi produk tontonan. Proses komersialisasi Komersialisasi seni pertunjukan terletak kepada industri terkait seperti pariwisata, media promosi dan pemerintah yang berkepentingan untuk mempromosikan budaya ataupun menggunakan budaya sebagai salah satu bagian dalam kegiatan atau acara yang dikerjakan. Misalkan seni pertunjukan yang dipakai dalam acara promosi sebuah produk wisata. Proses distribusi Distribusi produk seni pertunjukan ditujukan kepada proses menyalurkan seni kepada konsumen baik untuk dinikmati langsung maupun melalui media perantara. Walaupun pada produk tertentu, ada kalanya penggunaan media perantara seperti elektronik dan internet akan mengurangi kenikmatan pemirsa. Seni pertunjukan didistribusikan kepada konsumen melalui gedung pertunjukan. Mengingat minimnya sarana gedung pertunjukan telah mencuatkan isu untuk menampilkan seni diruang ruang publik non ruang seni pertunjukan.

EKONOMI KREATIF SENI PERTUNJUKAN

Industri Kreatif kelompok seni pertunjukan meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik-teater, opera, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.

Lapangan usaha yang merupakan bagian dari kelompok industri seni pertunjukan yaitu:

  1. Jasa konvensi, pameran, dan perjalanan insentif yang mencakup usaha dengan kegiatan memberi jasa pelyanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendekiawan, dan sebagainya). Termasuk juga dalam kelompok ini usaha jasa yang merencanakan, menyusun dan menyelenggarakan program perjalanan insentif dan usaha jasa yang melakukan perencanaan dan penyelenggaraan pameran;
  2. Impresariat yang mencakup kegiatan pengurusan dan penyelenggaraan pertunjukan hiburan baik yang berupa mendatangkan, mengirim, maupun mengembalikan serta menentukan tempat, waktu, dan jenis hiburan. Kegiatan usaha jasa impresariat ini meliputi bidang seni dan olah raga;
  3. Kegiatan drama, musik, dan hiburan lainnya oleh pemerintah yang mencakup kegiatan pemerintah dalam usaha menyelenggarakan hiburan baik melalui siaran radio, dan televisi, maupun tidak, seperti: drama seri, pagelaran musik, dengan tujuan sebagai media hiburan;
  4. Kegiatan drama, musik, dan hiburan lainnya oleh swasta yang mencakup usaha pertunjukan kesenian dan hiburan panggung yang dikelola oleh swasta seperti: opera, sandiwara, perkumpulan kesenian daerah, juga usaha jasa hiburan seperti: band, orkestra, dan sejenisnya. Termasuk kegiatan novelis, penulis cerita dan pengarang lainnya, aktor, penyanyi, penari sandiwara, penari dan seniman panggung lainnya yang sejenis. Termasuk juga usaha kegiatan produser radio, televisi, dan film, penceramah, pelukis, kartunis, dan pemahat patung;
  5. Jasa Penunjang Hiburan yang mencakup usaha jasa penunjang hiburan seperti : jasa juru kamera, juru lampu, juru rias, penata musik, dan js peraltan lainnya sebagai penunjang seni panggung. Termasuk juga agen penjualan karcis/ tiket pertunjukan seni dan hiburan;
  6. Kegiatan Hiburan lainnya yang mencakup kegiatan dalam menyelenggarakan hiburan kepada masyarakat, oleh pemerintah atauswasta.
  7. Kode industri yang merupakan industri kreatif kelompok Seni Pertunjukan merupakan kategori Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi dan kategori Jasa Kemasyarakatan, Sosial‐Budaya, Hiburan, dan Perorangan lainnya (mengacu kepada KBLI 2005). Secara rinci kode industri yang merupakan kelompok Seni Pertunjukan adalah sebagai berikut:

KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA SENI PERTUNJUKAN

Lapangan usaha yang termasuk dalam subsektor Seni Pertunjukan, yang mengacu pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005 adalah:

  1. Kelompok 63450, yaitu Impresariat yang mencakup kegiatan pengurusan dan penyelenggaraan pertunjukan hiburan baik yang berupa mendatangkan, mengirim, maupun mengembalikan serta menentukan tempat, waktu, dan jenis hiburan, khususnya meliputi bidang seni;
  2. Kelompok 92141, yaitu kegiatan drama dan hiburan lainnya oleh pemerintah yang mencakup kegiatan pemerintah dalam usaha menyelenggarakan hiburan baik melalui siaran radio, dan televisi, maupun tidak, seperti: drama seri, dengan tujuan sebagai media hiburan;
  3. Kelompok 92142, yaitu kegiatan drama dan hiburan lainnya oleh swasta yang mencakup usaha pertunjukan kesenian dan hiburan panggung yang dikelola oleh swasta seperti: opera, sandiwara, perkumpulan kesenian daerah, juga usaha jasa hiburan seperti: band, orkestra, dan sejenisnya, termasuk penulis cerita dan pengarang lainnya, aktor,penari sandiwara, penari dan seniman panggung lainnya yang sejenis;
  4. Kelompok 92143, yaitu jasa penunjang Hiburan yang mencakup usaha jasa penunjang hiburan seperti: jasa juru kamera, juru lampu, juru rias, penata musik, dan jasa peralatan lainnya sebagai penunjang seni panggung. Termasuk juga agen penjualan karcis/ tiket pertunjukan seni dan hiburan.

Profesi yang ada pada industri seni pertunjukan khususnya seni tradisi sangat berkorelasi dengan latar belakang budaya dan etnis setiap seniman. Walau sangat dimungkinkan bahwa seni sebuah etnis tertentu dipelajari oleh seniman berlatar belakang etnis yang berbeda. Namun hal ini tidak berlaku pada seni pertunjukan modern, misalnya seniman Bali akan kental nuansa tradisi Bali yang banyak berlatar belakang keagamaan, dan adat begitu pula dengan Jawa dengan pewayangan sebagai salah satu contoh. Profesi utama di subsektor industri Seni pertunjukan meliputi:

  1. Sutradara yaitu profesi yang melakukan aktivitas memimpin dan mengarahkan seniman dalam sebuah acara pertunjukan
  2. Aktor sebagai profesi yang menampilkan seni pertunjukan sebagai pemain termasuk sebagai story teller.
  3. Koreografer sebagai profesi yang melakukan penata tari, gerak dan olah tubuh
  4. Penulis naskah yaitu profesi yang merumuskan alur cerita.
  5. Manajer artis/seniman/teater yaitu profesi yang melakukan aktivitas pengaturan dan negosiator ke pihak lain atas nama artis/seniman.
  6. Penata cahaya yaitu profesi yang mengatur pencahayaan saat pertunjukan berlangsung
  7. Penata suara yaitu profesi yang bertugas untuk mengatur tata suara saat pertunjukan
  8. Penata busana yaitu profesi yang mendukung acara pertunjukan dari sisi busana.

EKONOMI KREATIF BIDANG SENI DAN BUDAYA

Industri Kreatif kelompok Seni dan Budaya (Pertunjukan) meliputi kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha yang berkaitan dengan pengembangan konten, produksi pertunjukan, pertunjukan balet, tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik-tradisional, musik-teater, opera, termasuk tour musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.

Dalam konteks pengkategorian baku ilmu seni, Seni dan Budaya (Pertunjukan) memasukkan seni musik, seni drama dan teater serta seni tari. Namun, pembahasan dalam industri kreatif melepaskan seni musik menjadi kelompok sub sektor tersendiri. Sehingga, kelompok industri kreatif sub sektor Seni dan Budaya (Pertunjukan) hanya melingkupi kegiatan yang berhubungan dengan seni drama, teater dan karawitan serta tari baik tanpa membedakan antara klasik, tradisi, modern, populer maupun kontemporer. Termasuk di dalamnya industri pendukung yang berkaitan seperti tata panggung, pencahayaan, busana dan tata suara.

Menumbuhkan ekonomi kreatif tidak bias lepas dari budaya setempat, busaya harus menjadi basis pengembangannya. Dalam konteks kebudayaan lokal ada yang di sebut dengan kearifan lokal yang menjadi nilai bermakna, antara lain, di terjemahkan ke dalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat.

Ekonomi kreatif tidak bisa dilihat dalam konteks ekonomi saja, tetapi juga dimensi budaya. Ide-ide kratif yang muncul adalah produk budaya, karena strategi kebudayaan sangat menentukan arah perkembangan ekonomi kreatif.

Gambar 1. Ekonomi Kreatif Berbasis seni Budaya

KATEGORI SENI PERTUNJUKAN DALAM RUANG EKONOMI KREATIF

Berikut ini adalah kategori seni pertunjukan dalam ruang ekonomi kreatif

Gambar 2. Kategori Seni Pertunjukan dalam ruang ekonomi kreatif

  1. Tari

Definisi tari yang umum dikenal adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan menjadi ungkapan si pencipta (Hawkins, 1990). Menurut perkembangannya, maka seni pertunjukan tari dapat dibagi menjadi beberapa genre yaitu:

  • Tari tradisi atau tradisional merujuk pada tarian yang dipentaskan sebagai bagian dari tradisi setempat, dan ini bisa terdiri dari tari ritual/klasik, tarian rakyat yang bentuknya beragam dan umumnya membawa identitas suku, daerah,
  • Tari kreasi baru atau ‘garapan baru’ didefinisikan pertama kali oleh R.M. Soedarsono (1974) sebagai komposisi tari yang masih menggunakan idiom-idiom tari tradisi, namun telah digarap ulang dengan memasukkan elemen-elemen baru seperti irama paduan gerak atau pun kostum.
  • Tari modern, sebagai istilah baku di kajian tari global, istilah ini awalnya merujuk pada eksperimental artistik di Barat (Eropa-Amerika) di awal abad ke-20 ketika tari masuk ke dalam ruang teater modern tempat ekspresi individualitas menjadi penanda utama.
  • Dalam pemakaian sehari-hari di media maupun di lingkungan akademis, di Indonesia, pengertian tari modern masih cenderung melenceng dari alur sejarah modernisme Seringkali, tari modern dianggap sebagai garapan baru (tari kreasi) atau malah disalahtafsirkan sebagai tari latar (hiburan).
  • Tari kontemporer adalah kategori yang cenderung ditumpang-tindihkan dengan tari modern, namun juga yang secara lentur dipahami sebagai garapan tari baru yang motivasinya
    mendasarkan diri pada eksperimental artistik. Eksperimental bisa berpusat pada gerak, komposisi maupun situs (sites) di luar panggung prosenium ataupun gedung teater lainnya.
    Di luar keempat kategori ini, sendratari adalah kategori khas Indonesia yang muncul setelah produksi Ballet Ramayana (1961) atau yang kemudian dinamai baru sebagai Sendratari Ramayana (1970).

 

  1. Teater

Teater dalam seni pertunjukan memiliki makna yang luas. Selain merujuk pada gedung tempat digelarnya pertunjukan atau sinema, pengertian kata ini juga mencakup hampir seluruh bentuk seni pertunjukan dari ritual purba, upacara keagamaan, pertunjukan rakyat (folk theatre), dan jalanan (street theatre), sampai pada bentuk seni pertunjukan yang muncul kemudian (termasuk di dalamnya pantomim dan tableaux atau pentas gerak tanpa kata). Oleh karena itu, pendefinisian seni pertunjukan kategori teater masih merupakan tantangan, namun sebagai potensi ekonomi kreatif, teater diklasifikasikan menjadi:

  • Teater tradisi. Pengertian teater tradisi dibatasi pada: 1) bentuk seni pertunjukan tradisi yang sudah berlangsung lama–puluhan atau ratusan tahun- dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya; 2) watak multidisiplinnya cukup dominan, tak hanya melibatkan olah gerak dengan iringan musik, tapi juga pengucapan dialog atau syair, serta ekspresi dramatik lainnya, baik berdasar pakem, lakon tertulis atau hanya improvisatoris; 3) berakar pada–serta mengolah idiom budaya dan menggunakan bahasa suku bangsa setempat serta menjadi bagian dari proses solidaritas warga; 4) terkait dengan nilai serta kepercayaan komunitas masyarakat tempat seni pertunjukan itu hadir dan tumbuh (Kayam, 1981); 5) berlangsung di luar ruangan (outdoor) atau di tempat-tempat yang sifatnya sementara (bukan gedung atau bangunan yang dirancang khusus); 6) banyak teater tradisi dari suatu daerah berangkat dari sastra lisan yang berupa pantun, syair, legenda, dongeng, dan cerita-cerita rakyat setempat (folk-lore).
  • Teater modern. Pendefinisian teater modern di Indonesia tidak dapat sepenuhnya sesuai dengan kontekstual seni pertunjukan Indonesia, karena di Indonesia, ‘teater modern’ adalah bagian dari produk kultural yang dibawa oleh kontak Indonesia dengan ‘Barat’ pada zaman kolonial. Batas-batas teater ‘modern’ dalam pengembangan ekonomi kreatif ini melingkupi: 1) berdasarkan naskah lakon (baik terjemahan maupun orisinal); 2) melisankan naskah dengan iringan musik yang terbatas; 3) kebanyakan berlangsung di panggung prosenium yang memisahkan dan menghadapkan penonton dengan pemain secara frontal; serta 4) mengutamakan akting realistik, meskipun ditempatkan dalam konteks dan situasi-situasi non-realis.
  • Teater transisi adalah teater yang jejak tradisinya masih terasa namun sudah menggunakan elemen-elemen atau praktik-praktik modern, seperti pada bentuk panggung (prosenium, dalam ruang), tema yang digarap (mulai mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat), maupun pengelolaan organisasinya.
  • Teater eksperimental atau garda depan (avant-garde) adalah bentuk pertunjukan teater dengan semangat eksperimental sehingga membuat setiap pertunjukan akan memiliki gaya atau percampuran gaya yang bisa berbeda dengan tajam, dan teater eksperimental atau teater garda depan tak bisa digeneralisir. Klasifikasi ini bisa dimungkinkan sejauh kita menempatkan amatan pada semangat eksperimental tersebut dan upaya untuk mencari bahasa-bahasa ‘baru’ dalam ekspresi mereka. Semangat dan upaya yang kerap mendorong praktik penciptaan teater garda depan melintasi banyak disiplin dan menggunakan beragam medium dalam pertunjukan mereka.

Berdasarkan tujuan penciptaan serta watak pengelolaan kelompok karya, teater yang menjadi fokus pengembangan adalah:

  • Teater nonkomersial/teater ketiga atau teater sebagai aktivisme kultural, yaitu praktik teater yang dilakukan dengan dasar pembacaan atau refleksi atas kenyataan dan masalah yang lebih luas dari si seniman: kenyataan dan problem masyarakatnya. Di samping hiburan, penonton juga diajak untuk memikirkan persoalan-persoalan di masyarakat yang menjadi pijakan berkarya.
  • Teater komersial adalah praktik teater yang diciptakan dan dipentaskan dengan tujuan serta niatan komersial (profit oriented), dengan standar profesionalisme dalam ukuran relatif berdasarkan konteks masing-masing. Karena tujuan dan aspirasinya komersial, maka watak pertunjukan-pertunjukan semacam ini menekankan pada sisi hiburan yang segera (immediate). Karenanya unsur musik (dan lagu) populer serta pertunjukan kerupaan (spektakel) di panggung-panggung komersial mendapatkan porsi yang besar

 

  1. Musik
    Seni pertunjukan musik merujuk pada bentuk penyajian musik secara langsung (live) di hadapan penonton (audiences) yang kemudian dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu:
  • Pertunjukan musik populer kontemporer, merujuk pada pertunjukan musik yang terdiri dari sejumlah genre populer termasuk musik pop, rock, jazz, soul, R&B, reggae, dan sebagainya, namun digubah dengan tingkat eksperimental tinggi dan digunakan sebagai medium penyampaian gagasan penciptaan senimannya (komponisnya), sehingga konser/pertunjukan musik ditempatkan sebagai aktivitas utama dalam
  • Pertunjukan musik yang berakar pada kebudayaan lokal (kontemporer dan nonkontemporer), yang dapat dibagi menjadi:
  • Pertunjukan musik tradisional adalah musik yang diwariskan secara turun-temurun dan berkelanjutan pada masyarakat suatu daerah, dan mempunyai ciri khas masingmasing baik dari alat, gaya, dan bahasa yang digunakan. Contoh: Gondang (Batak), Gambus dan Orkes Melayu (Riau), Gambang Kromong (Betawi), Angklung (Sunda), dan Gamelan (Jawa dan Bali).
  • Pertunjukan musik dunia (world music) adalah pertunjukan musik yang pada umum merujuk pada sebuah genre perpaduan (fusion) antara musik-musik yang mengambil sumber dari lokalitas tertentu (non-Barat) tertentu dengan genre musik lainnya.
  1. Pertunjukan musik klasik Barat (kontemporer dan nonkontemporer), yang dapat dibagi menjadi:
  • Orkestra, adalah sekelompok musisi yang memainkan alat musik Klasik bersama, seperti alat musik gesek (strings), alat musik tiup (woodwind & brass), dan alat perkusi.
    Selain tiga kategori tersebut, piano dan gitar juga terkadang dapat dijumpai dalam
  • Musik kamar (chamber music), adalah musik klasik yang dimainkan oleh sekelompok musisi berjumlah kecil (biasanya 4 orang) dan dipentaskan di ruangan skala kecil.
  • Paduan suara
  • Seriosa
    Pengembangan bentuk musik kontemporer berlaku pada setiap genre tersebut, artinya merujuk pada eksperimental yang melebihi dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya, disemangati oleh pencarian kemungkinan baru, menekankan sifat anti pada kaidah-kaidah kompositoris, bahkan anti pada bentuk-bentuk penyajian musikal yang baku dan mapan. Dari sudut pandang kreativitas, musik kontemporer dimengerti sebagai musik ‘baru’ yang dibuat dengan kaidah dan suasana yang baru, berkembang pada gagasan yang menempatkan proses eksplorasi bunyi sebagai yang utama dan medium ekspresi yang tak terbatas agar dapat mewadahi gagasan penciptanya–yang pada akhirnya lepas dari konsep musik yang enak didengar saja. Sedangkan musik nonkontemporer merujuk pada gubahan musik yang bentuknya relatif tidak berubah dari zaman ke zaman dan tidak terjadi eksplorasi dalam teknik permainan maupun bunyi diluar dari apa yang lazimnya

*) CEO INSPIRE Group
HP./WA : +62 815-5181-303

Leave a Reply