Pesimisme Menyambut MEA

“Jika hanya akan menjadi tamu di rumah sendiri, buat apa ikut MEA”

Idealnya dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) menjadi trigger munculnya poros ekonomi baru di kawasan Asia Tenggara. Hampir sama konsepnya dengan Masyarakat Ekonomi Eropa. Bahkan Euro diberlakukan Euro sebagai mata uang sebagian besar negara Eropa. Hanya beberapa negara saja yang masih bertahan dengan mata uangnya sendiri, karena mereka pede bahwa mata uang sendiri lebih unggul dari mata uang Euro.
Misalnya Inggris, sampai saat ini masih kuekueh menggunakan Poundsterling sebagai alat tukar utamanya. Mungkin MEA untuk sementara ini tidak seekstrim itu, tahun ini (2016 – red) hanya pasar bebas. Tapi tidak menutup kemungkinan poros ini akan membuat mata uang baru di masa yang akan datang, sebagai representasi kekuatan ekonomi Asia Tenggara.
Bagaimana dengan Indonesia? Akankah MEA ini membuka peluang kerja baru? Karena antara sesama anggota MEA sudah borderless. Mengingat sampai saat ini angka pengangguran di Indonesia berada di angka yang tidak menyenangkan. Atau sebalinya, semakin menipisnya peluang kerja, direbut oleh orang asing, karena kalah bersaing dalam kompetensi.
Dalam yang berbeda, besarnya populasi penduduk Indonesia (250 juta jiwa tahun 2015), menjadi target pasar yang ‘basah’ bagi negara lain. Karena masyarakat Indonesia cenderung konsumtif. Yang jelas salah satu konsekuensi logis MEA adalah pertarungan tenaga kerja dan pasar. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mampukah putra-putri Indonesia bersaing dengan penduduk negara lain dari hal profesionalitas kerja?
Atau jangan-jangan justeru gigit jari, karena dengan kualitas rendah menuntut gaji tinggi. Contoh, industri televisi kita dalam dua tahun terakhir ini sudah dibanjiri film luar, misalnya K-Pop, India.
Memang tidak bisa dipungkiri sudah ada beberapa film Indonesia tembus pasar luar bahkan di Hollywood. Seperti The Raid. Tapi itu sebagian kecil dari jutaan film produksi dalam negeri. Di sektor finansial, melihat kurs mata uang rupiah dibanding negara tetangga juga tidak menguntungkan. Taruhlah posisi rupiah dan ringgit Malaysia, 1:0.0003 atau dalam 1 ringgit bernilai 3297 rupiah.
Hal ini akan berpengaruh pada nilai tukar dalam jual beli. 1 ringgit bisa membeli enam pisang goreng di Indonesia. Tapi dengan 3000 rupiah kita hanya bisa mendapatkan sepotong pisang di Malaysia.
Itulah sebagian dilema dalam menghadapi MEA. Dalam kondisi seperti ini Indonesia harus ikut arus, jika tidak akan dicap sebagai negara yang plin-plan, karena Indonesia salah satu pemrakarsa MEA.
Siap atau tidak harus siap. Makanya, di awal tahun 2016 kemarin Presiden Jokowi menegaskan tidak perlu takut dengan MEA. Entahlah, apakah pernyataan itu hanya sekedar ingin membesarkan hati rakyat atau memang pemerintah sudah mempersiapkan program-program strategis.
Sejalan dengan janji Presiden saat kampanye 2014 bahwa salah satu program penting yang akan digalakkan adalah ekonomi kratif. Karena memang banyak potensi kita yang selama ini luput dari perhatian.
Kita kaya dengan budaya yang berkualitas dunia. Tapi sayang selama ini masih sering dilupakan, sehingga kadang masih sering diklaim negara tetangga.
Banyak pulau dan pantai yang bisa dijadikan destinasi untuk liburan, bukan hanya masyarakat lokal regional, bahkan mancanegara. Selama ini kan hanya Bali yang dikenal. Mengapa indahnya deburan ombak pantai selatan pulau Jawa tidak pernah muncul di daftar favorit turis asing. Bahkan masyarakat kita pun masih banyak yang tidak tahu.
Kita punya banyak anak muda kreatif yang bisa menciptakan software canggih. Tapi selama ini luput dari pengamatan pemerintah, sehingga mereka lebih enjoy bekerja dengan google dan software house lainnya di luar negeri.
Apalagi di sektor kuliner, dari dulu Indonesia kaya dengan rempah-rempah. Inilah yang menjadi salah satu pemicu para penjajah dari Eropa gemar memonopoli kekayaan Indonesia dengan politik dagangnya, taruhlah VOC. Memang saat ini sudah dihapus sejak masa perjuangan kemerdekaan dulu, tapi sampai saat ini ternyata masih ada walaupun dalam bentuk yang berbeda.
Mengapa masyakat kita lebih memilih makanan dari negara lain yang notabene tidak sehat dan mahal dari pada masakan asli Indonesia yang sehat dan murah.
Karena memang sektor-sektor ekonomi kreatif ini selama ini luput dari perhatian. Maka sudah saatnya potensi daerah kita menjadikan industri ekonomi kreatif menyongsong MEA 2016.