Modal Lembaga Konsultansi Menghadapi MEA

MEA Harusnya Menjadi Peluang Bukan Tantangan….

Banyak pesimisme muncul manakala tahun 2016 benar-benar menjadi awal diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Komoditas dalam negeri yang dikuatirkan kalah bersaing. SDM (Sumber Daya Manusia) yang masih rendah kompetensinya. Dan kecemasan lain yang mengarah pada ketidak siapan. Termasuk di lembaga konsultan.

Salah satu yang berperan menghasilkan kualitas pekerjaan lembaga konsultansi adalah adanya tenaga ahli yang mempunyai kompetensi tinggi di bidangnya. Minimal mempunyai  sertifikat yang diakui di negara-negara Asean. Sehingga mempunyai modal cukup untuk ikut dalam kompetensi pasar bebas itu.

Selain kompetensi yang bersifat personal itu, kualitas coorporat yang menaunginya harus mendukung. Jangan sampai kualitas personal yang bagus berada di lingkungan organisasi yang tidak produktif. Dua-duanya harus seiring sejalan. Saling support. Dengan begitu, tidak akan ada kekuatiran lagi kalah bersaing dalam kompetesi MEA.

Salah satu konsekuensi logis dari dinamika peradaban dunia adalah munculnya kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) oleh negara-negara Asia Tenggara. Samuel P. Huntington menyebutnya benturan peradaban. Pergeseran geopolitik, ideologi dan ekonomi akan memuncul model-model persaingan baru yang memaksa untuk diikuti ritmenya.

Pergeseran semacam ini akan selalu muncul dan akan muncul lagi. Karena itu merupakan bukti bahwa manusia itu hidup dan berkembang. Indonesia sebagai bagian dari MEA ikut dalam dinamika itu. Tanpa harus ditanya kesiapannya. Kemudian apa peranan konsultan dalam dinamika ini?

Tentu sangatlah besar dan penting. Setiap proses pembangunan diperlukan desain perencanaan, pelaksanaan dan pemeriksaan. Di situ lah peran strategis lembaga konsultan itu berada. Selain itu, lembaga harus mampu melihat persoalan secara utuh. Bagaimana kondisi masyarakat kita kaitannya dengan diberlakukannya MEA? Untuk selanjutnya dikomunikasikan dengan pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Dari proses itu diharapkan akan lahir program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu memperbaiki kualitas lembaga konsultan  merupakan suatu keniscayaan. Bagaimana mungkin bisa memberikan masukan dan arahan jika tidak punya ilmu untuk itu. Peran tenaga ahli yang profesional dan mempunyai kompetensi tinggi dibidangnya menjadi faktor penentu. Selain itu arah lembaga konsultan harus jelas.

Jangan seperti kapal berlayar tanpa dermaga tujuan. Dia akan terombang-ambing ganasnya ombak di lautan. Begitulah kiasan suatu organisasi yang lebih dalam visi, atau tidak punya visi sama sekali. Jalannya bagaikan air mengalir. Tidak ada gairah dan semangat untuk mencapai visi itu.

Visi itu bagaikan intan berlian berkilau di indahnya lazuardi yang biru. Setiap aktifitas yang dikerjakan merupakan anak tangga menuju indahnya berlian itu. Naik dan terus naik. Bukan mengalir mencari tempat terendah seperti air. Ingat, Visi itu bukan formalitas dan utopia. Apalagi sekedar pelengkap administrasi. Visi itu mimpi, harapan dan cita-cita.

Masih ingat adagium orang Inggris: Britain rules the waves (Inggris Menguasai Ombak). Kalimat sakti ini muncul di pertengahan abad ke-18. Yang berarti mereka ingin menguasai lautan. Jika lautan yang dikuasi berarti dia telah menguasi dunia. Karena perbandingan daratan dan laut jauh lebih luas lautan. Dan terbukti bangsa Inggris banyak menguasai negara, bahkan benua. Salah satu sisa-sisa kejayaannya yang bisa kita lihat sampai saat ini adalah dijadikannya Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi dunia. Dari visi yang jelas, lahirlah misi. Sebagai anak tangga menuju visi itu. Jangan dibalik, ada program dulu baru kemudian visi dan misinya menyesuaikan.

Di beberapa perusahaan besar skala internasional, Visi mengalir bersama aliran darah para karyawannya. Setiap saat setiap waktu selalu diucapkan. Baik dalam bentuk yel-yel atau hanya nyanyian pengusir lelah. Ternyata efektif untuk ‘menyuntikkannya’ ke alam bawah sadar. Seolah perusahaan menginginkan sejak mata terbuka sampai terpejam lagi visi itu tertanam di alam bawah sadar mereka.

Itulah kemudian yang men’drive’ mereka untuk selalu berkarya dan berinovasi. Ketika visi tertanam dalam bawah sadar akal sadar akan dikalahkan. Artinya, karyawan itu akan melangkah tanpa banyak pikir menuju visi itu. Memang terkesan aneh dan mungkin tidak penting. Marilah kita melihat kebiasaan-kebiasaan kita yang muncul tanpa berpikir. Misalnya, makan. Jika perut dalam keadaan lapar seluruh badan akan diperintahkan oleh bawah sadar untuk mencari makanan. Perintah itu tanpa pertimbangan alam sadar.

Jadikan kita dan orang-orang di perusahaan kita untuk bertindak seperti tubuh dalam keadaan lapar kemudian mencari makan dalam usaha mencapai visi itu.

Leave a Reply