Minapolitan Tulungagung : Fakta yang Membanggakan

Jpeg

Budidaya perikanan air tawar, merupakan primadona di Kabupaten Tulungagung dalam kurun waktu lima tahun ini, baik itu ikan hias maupun jenis ikan-ikan konsumsi. Masyarakat Kab. Tulungagung juga mengikuti trend baru dalam pengembangan ikan konsumsi, misalnya dengan pengembangan budidaya ikan lele. Budidaya lele ini sangatlah menjanjikan di samping Indonesia pada umumnya cocok untuk pengembangan komoditas tersebut juga pangsa pasar yang masih terbuka luas. Selain ikan lele, budidaya perairan darat mulai dari gurami, nila. lobster air tawar, ikan hias, belut, bekicot, udang windu, udang vanname yang kesemuanya terbagi di berbagai Kecamatan di Tulungagung dari Pakel, Rejotangan, Ngunut, Kedungwaru, Kalidawir, Boyolangu, Gondang, Ngantru, Besuki, Pucanglaban dan beberapa kecamatan lainnya. Sedang untuk daerah pemasarannya meliputi daerah Surabaya sekitar, Malang, Jakarta, ataupun sampai luar Jawa bahkan sampai ke mancanegara yaitu Singapura, Jepang, dan China.

Kecamatan Gondang, khususnya Desa Gondosuli merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan perikanan budidaya air tawar.

Kegiatan budidaya ikan terutama lele di Kecamatan Gondang mulai berkembang dan ditunjang oleh keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) untuk mencukupi kebutuhan benih. Di wilayah ini pasokan air untuk kebutuhan budidaya dapat terpenuhi karena adanya saluran-saluran irigasi maupun sungai.

Untuk sektor budidaya ikan air Tawar di Kabupaten Tulungagung juga mengalami peningkatan ditiap tahunnya, dimana pada tahun 2013 jumlah penangkapan mencapai angka 24,908.25 ton. Jenis Produksi untuk hasil penangkapan ikan di Tambak pada tahun 2013, sempat mengalami penurunan yaitu 230,54 ton, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 694 ton.

Hasil produksi perikanan budidaya di Kabupaten Tulungagung didominasi oleh ikan lele, meskipun sempat mengalami penurunan produksi namun komoditas ikan lele menunjukkan produksi yang paling tinggi. Fakta ini mengantarkan Kabupaten Tulungagung merupakan lumbung ikan lele di Provinsi Jawa Timur.

Ikan lele merupakan salah satu alternatif komoditas unggulan air tawar yang penting dalam rangka pemenuhan peningkatan gizi masyarakat. Dengan keunggulan mudah dibudidayakan dan harganya relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, menyebabkan prospek usaha beternak lele digemari masyarakat. Bisnis lele ini meliputi bisnis benih, pembesaran, dan bisnis pasca panen. Pasar utama ikan lele warung lesehan dan pecel lele. Di samping itu lele segar maupun aneka olahan ikan lele banyak dijumpai di restoran dan super market.

Sentra lele tersebar hampir merata di Tulungagung, dan yang terbesar di Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang. Salah satu sentra produksi lele terbesar di Tulungagung adalah Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang. Gondosuli berpenduduk 2.415 jiwa, dan 140 orang di antaranya adalah pembudidaya ikan. Saat ini lahan budidaya ikan di Gondosuli mencapai 20,86 ha dengan kepemilikan lahan rata-rata setiap pembudidaya sekitar 1.000 m2. Secara umum kegiatan budidaya lele di Gondosuli dikembangkan oleh masyarakat di lahan di sekitar pekarangan rumah. Namun, akhir-akhir ini terjadi perubahan paradigma usaha yang dilakukan, yakni sudah mulai banyak masyarakat yang mengembangkan usaha budidaya di areal-areal persawahan.

Dengan lokasi budidaya yang terpusat tersebut, Gondosuli mendapat kemudahan dalam pengembangan usaha, terutama terkait jaminan pemasaran baik yang dari pedagang lokal maupun pedagang antar provinsi. Jaminan pemasaran ini secara umum berupa kepastian terserapnya lele dari kegiatan budidaya dan kestabilan harga jual. Bahkan secara umum harga lele tingkat pembudidaya di Gondosuli lebih tinggi Rp 200-Rp 300 per kilogramnya dibanding harga lele di luar Gondosuli.

Fakta di atas sudah seharusnya mendorong Pemerintah Kabupaten Tulungagung untuk memperkuat struktur ekonomi lokal berbasis pada perikanan budidaya (minapolitan) yang  diarahkan dengan jalan :

(a) mendudukkan kegiatan pembangunan perikanan sebagai SDA yang terbaharukan untuk dikelola dan dimanfaatkan secara rasional, optimal, efisien dan bertanggungjawab dengan mendayagunakan seluruh fungsi dan manfaat secara seimbang guna mendukung perekonomian daerah;

(b) meningkatkan efisiensi, modernisasi dan nilai tambah sektor perikanan agar mampu bersaing di pasar lokal dan memperkuat basis produksi di tingkat regional dan nasional;

(c) memantapkan daya dukung pembangunan perikanan dalam arti luas terhadap pembangunan pedesaan, pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan, dan ketahanan pangan, dan

(d) secara khusus meningkatkan nilai tambah kegiatan pembangunan perikanan guna peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kawasan minapolitan yang dinamis dan efisien yang melibatkan partisipasi aktif petani ikan (pelaku usaha). (Luthfi S.)

Leave a Reply