METODE PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA

METODE PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA

Oleh : Isa Wahyudi

POTENSI PENGEMBANGAN AGROWISATA

Perkembangan pariwisata di suatu tempat, tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses. Proses itu dapat terjadi secara cepat atau lambat, tergantung dari berbagai faktor eksternal (dinamika pasar, situasi politik, ekonomi makro) dan faktor eksternal di tempat yang bersangkutan, kreatifitas dalam mengolah aset yang dimiliki, dukungan pemerintah dan masyarakat (Gunawan, 1999). Pembangunan kepariwisataan memerlukan perencanaan dan perancangan yang baik. Kebutuhan akan perencanaan yang baik tidak hanya dirasakan oleh pemerintah yang memegang fungsi pengarah dan pengendali, tetapi juga oleh swasta, yang merasakan makin tajamnya kompetisi, dan menyadari bahwa keberhasilan bisnis ini juga tak terlepas dari situasi lingkungan yang lebih luas dengan dukungan dari berbagai sektor.

Peranan pemerintah baik pusat maupun daerah sangat membantu terwujudnya obyek wisata. Pemerintah berkewajiban mengatur pemanfaatan ruang melalui distribusi dan alokasi menurut kebutuhan. Mengelola berbagai kepentingan secara proporsional dan tidak ada pihak yang selalu dirugikan atau selalu diuntungkan dalam kaitannya dengan pengalokasian ruang wisata. Kebijakan pengelolaan tata ruang tidak hanya mengatur yang boleh dan yang tidak boleh dibangun, namun terkandung banyak aspek kepastian arah pembangunan. Merubah potensi ekonomi menjadi peluang nyata, memproteksi ruang terbuka hijau bagi keseimbangan lingkungan, merupakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pengalokasikan ruang. Pengelolaan kepariwisataan pada dasarnya melibatkan tiga kelompok pelaku, yaitu sektor bisnis, sektor nonprofit dan sektor pemerintah.

Pemerintah diharapkan dapat memberdayakan, mengayomi dan memberlakukan peraturan-peraturan, tidak sekedar untuk mengarahkan perkembangan, melainkan juga untuk perintisan atau untuk mendorong sektor-sektor pendukung dalam mewujudkan pengembangan pariwisata, yaitu mempunyai fungsi koordinasi, pemasaran, termasuk di dalamnya promosi, pengaturan harga untuk komponen-komponen tertentu, pengaturan sistem distribusi ataupun penyediaan informasi. Sedangkan operasionalnya diserahkan kepada swasta. Banyak bidang operasional bisnis yang dikelola oleh pemerintah hasilnya tidak maksimal, karena adanya “perusahaan di dalam perusahaan”.

Diakui memang pembangunan pariwisata selama ini lebih banyak dikonsentrasikan di beberapa lokasi saja, seperti di Pulau Bali, Pulau Jawa, Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Namun kini perkembangan pembangunan pariwisata berjalan cukup pesat setelah disadari, bahwa industri pariwisata merupakan penghasil devisa non migas terbesar di dunia. Idealnya, pariwisata dapat meningkatkan kualitas masyarakat dan mensejahterakan masyarakat, mendukung kelestarian lingkungan, mengembangkan perekonomian, dengan dampak negatif yang minimal. Obyek wisata yang paling lama berkembang adalah obyek wisata yang menonjolkan keindahan alam, seni dan budaya. Mengingat keindahan alam menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, potensi ini menarik untuk digarap. Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Rangkaian kegiatan pertanian dari budidaya sampai pasca panen dapat dijadikan daya tarik tersendiri bagi kegiatan pariwisata. Dengan menggabungkan kegiatan agronomi dengan pariwisata banyak perkebunan-perkebunan besar di Indonesia dikembangkan menjadi obyek wisata agro.

Bagi daerah yang memiliki tanah subur, panorama indah, mengembangkan agrowisata akan mempunyai manfaat ganda apabila dibandingkan hanya mengembangkan pariwisata dengan obyek dan daya tarik keindahan alam, seni dan budaya. Manfaat lain yang dapat dipetik dari mengembangkan agrowisata, yaitu disamping dapat menjual jasa dari obyek dan daya tarik keindahan alam, sekaligus akan menuai hasil dari penjualan budidaya tanaman agro, sehingga disamping akan memperoleh pendapatan dari sektor jasa sekaligus akan memperoleh pendapatan dari penjualan komoditas pertanian.

PERKEMBANGAN TENTANG AGROWISATA

Perkembangan agrowisata atau agritourism bermula dari ecotourism. Ecotourism adalah yang paling cepat bertumbuh diantara model pengembangan pariwisata yang lainnya di seluruh dunia, dan memperoleh sambutan yang sangat serius. Ecotourism dikembangkan di negara berkembang sebagai sebuah model pengembangan yang potensial untuk memelihara sumber daya alam dan mendukung proses perbaikan ekonomi masyarakat lokal. Ecotourism dapat menyediakan alternatif perbaikan ekonomi ke aktivitas pengelolaan sumber daya, dan untuk memperoleh pendapatan bagi masyarakat lokal (U.S. Konggres OTA 1992).

Agritourism telah berhasil dikembangkan di Switzerland, Selandia Baru, Australia, dan Austria. Sedangkan di USA baru tahap permulaan dan baru dikembangkan di California. Beberapa Keluarga petani sedang merasakan bahwa mereka dapat menambah pendapatan mereka dengan menawarkan pemondokan bermalam, menerima manfaat dari kunjungan wisatawan, (Rilla 1999).

Pengembangan agritourism merupakan kombinasi antara pertanian dan dunia wisata untuk liburan di desa. Atraksi dari agritourism adalah pengalaman bertani dan menikmati produk kebun bersama dengan jasa yang disediakan. Motivasi agritourism adalah untuk menghasilkan pendapatan tambahan bagi petani. Bagaimanapun, agritourism juga merupakan kesempatan untuk mendidik orang banyak/masyarakat tentang pertanian dan ecosystems. Pemain Kunci didalam agritourism adalah petani, pengunjung/wisatawan, dan pemerintah atau institusi. Peran mereka bersama dengan interaksi mereka adalah penting untuk menuju sukses dalam pengembangan agritourism

Pada era otonomi daerah, agrowisata dapat dikembangkan pada masing-masing daerah tanpa perlu ada persaingan antar daerah, mengingat kondisi wilayah dan budaya masyarakat di Indonesia sangat beragam. Masing-masing daerah bisa menyajikan atraksi agrowisata yang lain daripada yang lain. Pengembangan agrowisata sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis masing-masing lahan, akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumberdaya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan pendapat positif petani serta masyarakat sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian. Lestarinya sumber daya lahan akan mempunyai dampak positif terhadap pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Pengembangan agrowisata merupakan salah satu alternatif yang diharapkan mampu mendorong baik potensi ekonomi daerah maupun upaya-upaya pelestarian tersebut. Pemanfaatan potensi sumber daya alam sering kali tidak dilakukan secara optimal dan cenderung eksploitatif. Kecenderungan ini perlu segera dibenahi salah satunya melalui pengembangan industri pariwisata dengan menata kembali berbagai potensi dan kekayaan alam dan hayati berbasis pada pengembangan kawasan secara terpadu. Potensi wisata alam, baik alami maupun buatan, belum dikembangkan secara baik dan menjadi andalan. Banyak potensi alam yang belum tergarap secara optimal. Pengembangan kawasan wisata alam dan agro mampu memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah, membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaaan alam dan hayati. Apalagi kebutuhan pasar wisataagro dan alam cukup besar dan menunjukkan peningkatan di seluruh dunia

Sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah, pengembangan industri agrowisata seharusnya memegang peranan penting di masa depan. Pengembangan industri ini akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi dan upaya-upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat, agrowisata dapat menjadi salah satu sektor penting dalam ekonomi daerah. Pengembangan industri pariwisata khususnya agrowisata memerlukan kreativitas dan inovasi, kerjasama dan koordinasi serta promosi dan pemasaran yang baik. Pengembangan agrowisata berbasis kawasan berarti juga adanya keterlibatan unsur-unsur wilayah dan masyarakat secara intensif.

Pengembangan agrowisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat diperoleh dari agrowisata adalah melestarikan sumberdaya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani atau masyarakat sekitar lokasi wisata.

CARA MENEMUKENALI PENGEMBANGAN AGROWISATA

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan, sebaliknya data yang didapat dari suatu lembaga yang dengan tujuan tertentu menggali data tersebut sebelumnya, akan menjadi data sekunder. Teknik pengumpulan data yang dilaksanakan, antara lain:

1. Observasi (pengamatan)

Yaitu mengumpulkan data dengan mengadakan pengamatan langsung ke obyek atau lokasi penelitian untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti. Peneliti dalam melakukan observasi berperan sebagai partisipan yaitu ikut hidup dalam kelompok, identitas peneliti diketahui kelompok yang diteliti dan menyusup ke dalam situasi kehidupan masyarakat (Hadi, 1997)..

2. Wawancara

Wawancara merupakan proses interaksi dan komunikasi antara pengumpul data dan responden. Sehingga wawancara dapat diartikan sebagai cara mengumpulkan data dengan bertanya langsung kepada responden, dan jawaban-jawaban dicatat atau direkam dengan alat perekam (Kusmaryadi dan Sugiarto, 2000). Adapun teknik wawancara yang digunakan adalah:

1). Key informan, yaitu mewawancarai informan kunci yang dipergunakan dalam penelitian ini.

2). Depth interview, yaitu melakukan wawancara secara mendalam kepada responden.

3. Participatory Rural Appraisal (PRA)

Metode PRA yang dipakai dalam peneliti ini adalah metode penggalian data kualitatif kepada pelaku usaha di kawasan agrowisata dengan menggunakan teknik analisa SWOT (Streangtheness, Weakness, Opportunity, Treath). Subjek secara bersama-sama diminta untuk mengidentifikasi faktor-faktor kelebihan, kelemahan, peluang dan ancaman usaha mereka yang terjadi selama ini kemudian mereka diminta untuk membuat perencanaan pengembangan kawasan agrowisata Kayumas dengan pendekatan Partisipatory Research Appraisal (PRA).

4. Focus Group Discussion (FGD)

Focused Group Discusion (FGD) merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui diskusi bersama oleh beberapa peserta dengan menggunakan tema atau isu tertentu sebagai fokus Dwiyanto (2005). Dalam FGD merupakan suatu metode partisipatif dalam pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan dan kebutuhan tentang perencanaan pengembangan kawasan Agrowisata melalui diskusi kelompok. Makna partisipatifnya tercermin dari proses diskusi, dengan difasilitasi oleh moderator dengan mengemukakan suatu persoalan, suatu kasus, suatu kejadian, sebagai bahan diskusi (fasilitator tidak selalu bertanya), kemudian peserta sendiri yang mengemukakan permasalahan dan kebutuhannya (Irwanto, 1998).

TEKNIK MENGEMBANGKAN AGROWISTA

  1. Analisis Umum yang Meliputi Analisis Faktor Utama dan Penunjang Agrowisata,

diantaranya analisis zona dan sirkulasi, serta analisis fasilitas wisata. Analisis ini dilandaskan pada potensi, kendala, dan amenities yang ada pada tapak, ditinjau dari tujuan pengembangannya sebagai kawasan agrowisata di dalam kawasan agropolitan.

  1. Analisis Wisata,

termasuk di dalamnya analisis wisata umum, analisis wisata spesifik tapak, analisis permintaan dan penawaran agrowisata, serta analisis terhadap trend dan kebutuhan wisata.

Gambar 1 Permintaan dan Penawaran dalam Rumah Tangga Agrowisata Brščić (2006)

  1. Sintesis (Synthesis)

Dari hasil analisis keseluruhan kawasan akan didapatkan hasil berupa rekomendasi pengembangan agrowisata di kawasan agropolitan. Sedangkan dari hasil analisis pada lokasi pengembangan akan dapat ditentukan pembagian ruang dalam bentuk block plan.

  1. Perencanaan Lanskap

Hasil akhir (produk) dari penelitian ini akan mengarah pada suatu konsep rencana kawasan agrowisata secara umum. Sedangkan perencanaan pada titik sampel akan menghasilkan rencana lanskap (landscape plan) untuk lokasi pengembangan di Kawasan Agrowisata. Dalam hal lokasi pengembangan, kawasan dibagi menjadi dua zona, yaitu zona agrowisata dan zona non-agrowisata. Untuk perencanaan zona agrowisata dalam zonasi tersebut akan berpedoman pada pengembangan elemen utama daerah tujuan wisata berdasarkan Gunn (1997). Yaitu dengan pengembangan masing-masing elemen di zona agrowisata menjadi:

  1. Kompleks Atraksi (Attraction Complexes)
  2. Komunitas Pelayanan (Service Community)
  3. Transportasi dan Akses (Transportation and Access)
  4. Koridor Penghubung (Linkage Corridors)
  5. Pengembangan Konsep
  6. Konsep Ruang

Konsep ruang dikembangkan berdasarkan pada potensi pertanian sub sektor perkebunan, dengan berpegang pada metode pengembangan daerah tujuan wisata berdasarkan Gunn (1997). Selain itu juga mempertimbangkan kebutuhan ruang wisata serta faktor yang mendukung wisata secara keseluruhan.

Gambar 2 Model Zona Tujuan Wisata dengan Lima Elemen Kunci

Sumber: Gunn (1997)

Kawasan dibagi menjadi zona agrowisata dan zona non-agrowisata, dimana model zona tujuan wisata seperti terlihat pada gambar diatas dikembangkan sebagai zona agrowisata. Zona non-agrowisata dikembangkan dari Circullation Gateway Community Linkage Attraction penambahan zona konservasi dan zona penyangga, yang dianggap penting untuk melengkapi fungsi kawasan. Pembagian ruang selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini.

 

Gambar 3 Konsep Ruang Kawasan Agrowisata

  1. Zona Agrowisata
  2. Zona Atraksi (Attraction Complexes)
  3. Zona Penunjang Agrowisata
  4. Zona Penerimaan
  5. Zona Pelayanan (Service Community)
  6. Zona Penghubung (Linkage Corridors)
  7. Zona Masyarakat
  8. Zona Non-Agrowisata
  9. Zona Penyangga
  10. Zona Konservasi
  11. Konsep Sirkulasi

Konsep Sirkulasi pada kawasan agrowisata direncanakan dengan memanfaatkan jalur yang sudah ada akan tetapi perlu porsi lebih untuk pengunjung. Agrowisata lebih menekankan pada keberlangsungan wisata tanpa menganggu aktivitas masyarakat, akan tetapi hal ini tidak berarti meniadakan kontak antara wisatawan dengan masyarakat dan kegiatan kesehariannya.

Sirkulasi dalam kawasan terbagi menjadi jalur wisatawan dan jalur masyarakat yang merupakan jalur pendukung aktivitas sehari-hari. Konsep jalur untuk wisatawan adalah menghubungkan antara sub-sub zona atraksi yang ada sehingga memudahkan wisatawan untuk menikmati keseluruhan atraksi agrowisata. Jalur ini terbagi atas jalur primer, sekunder dan tersier yang dibedakan berdasarkan intensitas penggunaan dan kepentingan.

Gambar 2.5 Konsep Sirkulasi Wisata

  1. Konsep Aktivitas dan Fasilitas

Pengembangan jenis aktivitas di dalam kawasan dikaitkan dengan tujuan utama perencanaan, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus memperluas pengetahuan, pengalaman dan sebagai sarana rekreasi yang efektif bagi pengunjung. Jenis aktivitas tersebut kemudian dipisahkan berdasarkan tingkat keikutsertaan wisatawan dalam aktivitas pertanian. Dengan demikian, jenis aktivitas agrowisata yang dikembangkan dibagi menjadi aktivitas agrowisata aktif dan aktivitas agrowisata pasif, seperti terlihat pada Gambar 3.8

Gambar 2.6 Konsep Aktivitas

 

Isa Wahyudi

CEO INSPIRE Group
HP./WA : +62 815-5181-303

Leave a Reply